www.AlvinAdam.com

Berita 24 Jambi

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Spesies ikan air tawar baru ditemukan di Indonesia

Posted by On 20.42

Spesies ikan air tawar baru ditemukan di Indonesia

Ilustrasi ikan air tawar.
Ilustrasi ikan air tawar. | Besjunior /Shutterstock

Dua penelitian di Tanah air telah menemukan lebih dari 10 spesies ikan air tawar baru. Satu penelitian dilakukan oleh tim peneliti dari Indonesia dan Prancis. Sementara penelitian lain diadakan di Jambi.

Peneliti berharap temuan ini bukan hanya menambah keanekaragaman hayati Indonesia, tapi juga meningkatkan kesadaran untuk menyelamatkan ikan air tawar dari ancaman kepunahan.

Temuan pertama, menukil Good News From Indonesia, adalah tujuh spesies ikan tawar yang habitatnya tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, hingga Papua. Temuan itu telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah daring internasional BOREA (Biology of Aquatic Organism and Ecosystems) Research Unit .

Penelitian diadakan oleh tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkolaborasi dengan peneliti dari Muséum national d'Histoire naturelle dan Institut de recherche pour le développement.

Selama empat tahun sejak 2012-2016, penelitian ini melalui tahapan panjang. Untuk memverifikasi kebaruan satu spesies saja dibutuhkan waktu lama sekitar enam sampai 12 bulan. Salah satunya dengan mengidentifikasi gigi dan pori-pori di kepala ikan.

Ketujuh spesies itu bernama latin Oxyeleotris colasi Pouyaud, Lentipes ikeae, Lentipes mekonggaensis, Sicyopus rubicundus, Stiphodon annieae, Sicyopterus squamossisimus, dan Stiphodon aureofuscus.

Mereka umumnya hidup di bebatuan serta tumbuhan di dasar sungai atau danau. Spesies betina berukuran 4-5 sentimeter, sedangkan jantan berukuran 3-4 sentimeter.

Renny Kurnia Hadiaty, peneliti tujuh spesies baru yang juga Kepala Laborat orium Iktiologi Pusat Penelitian Biologi LIPI mengatakan, ikan-ikan itu memiliki warna cerah, tajam, dan cantik sehingga berpotensi sebagai ikan hias.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa potensi itu perlu digali lagi. Di antaranya dengan menentukan apakah keberadaan ikan untuk dikonsumsi, dibudidayakan atau sifat-sifat yang tidak memungkinkan untuk dilepaskan di ekosistem tertentu.

Temuan berikutnya merupakan hasil kerja akademis sepanjang 2015-2016 oleh Dr Tedjo Sukmono. Tribunjambi.com melansir, pakar ikan air tawar dari Univeristas Jambi tersebut menemukan 5 jenis ikan yang diduga spesies baru.

Hasil penelitiannya ia tuangkan dalam buku berjudul Ikan Air Tawar di Ekosistem Bukit Tiga Puluh.

Dr Tedjo yang juga dikenal sebagai spesialis ikan air tawar dalam kawasan hutan itu awalnya menemukan 87 spesies ikan air tawar di sungai Taman Nasional Bukit 30 yang berlokasi di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.

Setelah diteliti, ternyata lima di antaranya belum teridentifikasi, "Sudah saya cek di katalog buku ikan air tawar tidak terdaftar dan itu hanya ditemukan di Jambi," tegasnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi, Tema Wisman yang mendengar temuan itu segera mengapresiasi upaya Dr. Tedjo. “Nanti saya koordinasi dulu dengan bidang yang menangani ini,” kata Tema pada Tribunjambi.com secara terpisah.

Menurutnya, ada beberapa langkah yang nantinya perlu dilakukan terhadap temuan Dr Tedjo, “Yang jelas identifikasi dulu, ikan jenis apakah itu, habitatnya di mana, baru dilakukan penelitian lebih lanjut,” jelas Tema.

Apa pentingnya langkah tersebut?

Renny memaparkan, menggali lebih dalam soal spesies baru diperlukan untuk memberi penanganan yang tepat sehingga ikan bisa dilestarikan dan tak terancam punah.

Selain itu, agar ikan bisa dikelola dan dimanfaatkan tanpa mengancam habitat asalnya.

Kepada Mongabay Indonesia, Priscillia Hioe, peneliti ekosistem dan biodiversitas perairan dari komunitas Tamboramuda.org mencontohkan ketujuh spesies air tawar baru temuan LIPI. Ia menduga ikan-ikan itu termasuk kategori amfidromosa atau ikan yang bermigrasi dari air tawar ke air asin untuk bereproduksi dan melangsungkan hidup.

Jika benar demikian, maka sama sekali tak memungkinkan membudidayakan spesies baru tersebut di Tanah Air, “Saya takut jika ikan-ikan itu akhirnya terkenal menjadi ikan hias, orang akan berlebihan melakukan penangkapan dan membahayakan keberlangsungan hidupnya,” tandas Priscillia.

Kekhawatiran para peneliti terhadap ancaman kepunahan sangat masuk akal. Pasalnya,sekitar 92 persen ikan air tawar di Sungai Ciliwung telah ditemukan punah.

Berdasarkan penelitian LIPI sebelumnya, dari 187 spesies ikan tawar asli di sungai sepanjang 120 kilometer itu kini hanya tersisa sekitar 20 jenis.

Ikan yang punah antara lain spesies belida, soro, berot, nilem, tawes, putak, berukung, lele, brek, keperas, dan ikan hitam. Semen tara spesies ikan macam ikan hampal, genggehek, dan baung, makin terancam keberadaannya.

CNN Indonesia menulis penyebab kepunahan itu lantaran erosi dan pencemaran sungai yang terus terjadi. Terutama akibat aktivitas manusia seperti pembabatan hutan, juga limbah industri maupun rumah tangga.

Bahkan, keadaan semakin diperburuk dengan pola pikir masyarakat yang menganggap badan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

Upaya melindungi ikan air tawar

Karenanya, Renny berpesan untuk meningkatkan eksplorasi terhadap spesies-spesies baru, “Jangan sampai ada jenis yang belum diketahui tapi punah lebih dulu,” imbuhnya.

Selain itu, para ahli menganjurkan agar pemerintah menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai yang bisa menimbulkan hama penyakit. Pun menindak tegas ekploitasi ilegal ikan bernilai jual tinggi.

Masyarakat pun diharapkan tidak menebar ikan-ikan predator atau asing ke tempat yang bukan habitatnya, agar spe sies ikan asli tetap hidup.

Sumber: Google News | Berita 24 Jambi

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »